Hulu Sungai Tengah – Sebanyak lebih dari 5.000 ekor ayam pedaging milik Saipul Hadi di Desa Aluan Sumur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), mati massal akibat kepanasan ekstrem saat pemadaman listrik berlangsung lama.
Tragedi ekonomi ini terjadi pada Jumat, 24 Juli 2026, bertepatan dengan waktu Salat Jumat, ketika pasokan energi terputus hingga pukul 17.30 WITA.
Durasi pemadaman yang jauh melampaui jadwal semula membuat suhu di dalam kandang close house melonjak drastis tanpa kendali sistem ventilasi.
Pembakal Aluan Sumur, Nurul Adha, menjelaskan bahwa peternakan tersebut sebenarnya dilengkapi generator set sebagai sumber daya cadangan darurat.
Namun, nasib buruk menimpa peternak ketika mesin genset mengalami kerusakan mendadak tepat saat listrik utama padam total.
Kegagalan teknis itu berakibat fatal karena kipas blower, yang menjadi jantung sirkulasi udara kandang, tidak dapat beroperasi secara optimal.
“Generator yang ada macet sehingga kipas blower tidak bisa menyala semuanya. Akibatnya ayam kepanasan dan mati,” ungkap Nurul Adha saat dikonfirmasi, Senin (27/7/2026).
Dari total populasi sekitar 8.000 ekor ayam, kerugian terbesar pada fase pertumbuhan di mana hewan sangat sensitif terhadap perubahan suhu.
Kenaikan panas yang cepat di ruang tertutup menyebabkan stres termal akut, memicu kematian massal dalam waktu singkat sebelum petugas sempat bertindak.
Nurul Adha menilai lamanya durasi pemadaman menjadi faktor kunci yang memperparah dampak bencana bagi usaha mikro tersebut.
Ia juga menyoroti ketidakpastian informasi jadwal pemadaman yang berubah tiba-tiba, menghilangkan kesempatan peternak untuk melakukan antisipasi dini.
Dampak finansial dari insiden ini sangat berat, dengan estimasi kerugian materiil mencapai Rp250 juta bagi Saipul Hadi.
Hingga kini, belum ada respons atau kompensasi resmi dari pihak PLN atas kerugian besar yang diderita oleh pelaku usaha lokal.
“Kami berharap ada perhatian dan tanggung jawab dari pihak terkait karena kerugian yang dialami peternak sangat besar,” tegas Nurul Adha.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit tentang kerentanan infrastruktur peternakan modern yang sangat bergantung pada stabilitas pasokan energi listrik. (MDR)



