Hulu Sungai Tengah

HST Bentuk Benteng Nyata Lawan Perundungan di Sekolah

Hulu Sungai Tengah – Perundungan di lingkungan pendidikan bukan lagi dianggap persoalan sepele. Pemerintah Hulu Sungai Tengah bergerak menyusun langkah konkret melindungi warga belajar dari segala bentuk kekerasan, bukan sekadar lewat seremonial belaka.

Upaya nyata ini disosialisasikan Rabu (2/9/2026) di lingkungan Dinas Pendidikan HST, menyasar warga belajar Satuan Pendidikan Kesetaraan agar ikut menjadi mata dan telinga pengawas di lapangan.

Banyak kasus perundungan selama ini tertutup rapat karena dianggap sekadar bercandaan atau urusan anak-anak. Padahal dampaknya merusak masa depan korban seumur hidup.

Oleh karena itu, pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada guru atau kepala sekolah saja. Seluruh elemen di lingkungan pendidikan wajib ikut menjaga dan saling mengawasi.

“Jangan diam saja saat melihat ada yang diperlakukan tidak wajar. Itu bukan urusan orang lain, itu urusan kita semua. Diam berarti ikut membiarkan kejahatan terjadi,” tegas Kepala Dinas Pendidikan HST Muhammad Anhar.

Polres HST dan PDAM Turun Tangan Salurkan Air Bersih ke Warga Terdampak Kekeringan

Perundungan hadir dalam berbagai wujud yang tak selalu meninggalkan bekas fisik. Mulai dari ejekan, pengucilan, ancaman, hingga penyebaran hinaan lewat media sosial yang lukanya bisa jauh lebih dalam.

Korban kerap menanggung beban sendirian takut melapor, dihantui tekanan batin, hingga akhirnya kehilangan semangat belajar dan menarik diri dari pergaulan.

Karena itu, kesadaran setiap individu menjadi pertahanan paling kuat. Selama masih ada yang diam melihat ketidakadilan, perundungan akan terus menemukan celah untuk tumbuh.

Brigpol Aida Ramila Wati dari Polres HST mengingatkan batas antara candaan dan perbuatan tercela. Jika sudah menyakiti hati dan menimbulkan rasa takut, maka itu bukan lagi bercandaan  itu pelanggaran.

“Jangan tunggu korban terluka parah baru bertindak. Satu teguran sejak awal jauh lebih baik daripada sekadar meminta maaf setelah kerusakan terjadi,” ungkapnya.

Bupati Samsul Rizal Pacu Pengakuan Masyarakat Hukum Adat di HST

Pemerintah HST menegaskan sosialisasi ini bukan sekadar seremonial. Pemahaman yang disampaikan harus diterapkan, dipantau, dan ditindaklanjuti di setiap satuan pendidikan.

Sekolah yang aman lahir bukan dari aturan yang tertulis di kertas, melainkan dari keberanian semua pihak untuk bersuara saat melihat ada yang dirundung.

Masa depan anak-anak Hulu Sungai Tengah terlalu berharga untuk dikorbankan karena kelalaian kita. Bersama-sama kita pastikan tak ada lagi warga belajar yang gemetar ketakutan saat melangkah ke sekolah. (MDR)