Hulu Sungai Tengah – Kebakaran yang melanda rumah warga di Desa Tabudarat Hulu, Kecamatan Labuan Amas Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), merusak sekitar 35 persen bangunan dan sempat melumpuhkan arus lalu lintas di jalur provinsi.
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (19/10/2026) sekitar pukul 18.40 Wita. Rumah milik Syaibatul Hamdi, yang dihuni satu kepala keluarga dengan dua jiwa, menjadi sasaran kobaran api yang sempat membesar.
Kebakaran itu tidak hanya mengancam bangunan milik korban, tetapi juga berpotensi merembet ke rumah di sekitarnya. Kondisi tersebut membuat kecepatan penanganan menjadi penting untuk mencegah kerusakan yang lebih luas.
Salah seorang warga setempat, Anza, mengungkapkan kobaran api cepat membesar ketika kebakaran terjadi. Situasi itu sempat menimbulkan kekhawatiran warga, terutama karena terdapat bangunan lain di dekat rumah yang terbakar.
“Api cepat membesar, tetapi karena unit BPK dekat dengan lokasi, penanganan awal bisa segera dilakukan,” kata Liya.
Menurut Liya, keberadaan unit barisan pemadam kebakaran (BPK) yang tidak jauh dari lokasi membantu mempercepat upaya pemadaman. Respons awal tersebut membuat api dapat dikendalikan sebelum merambat ke seluruh bangunan maupun rumah yang berada di sampingnya.
Petugas akhirnya berhasil memadamkan api hingga tuntas. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kondisi kebakaran dinyatakan padam 100 persen, sehingga ancaman perluasan kobaran api dapat diatasi.
Namun, lokasi kebakaran yang berdekatan dengan jalan raya jalur provinsi menimbulkan persoalan lain. Arus kendaraan sempat macet total ketika kejadian berlangsung, mengganggu perjalanan masyarakat yang melintas di kawasan tersebut.
Kemacetan itu memperlihatkan dampak kebakaran yang tidak hanya dirasakan pemilik rumah, tetapi juga pengguna jalan. Penanganan kejadian serupa di dekat jalur utama memerlukan koordinasi agar petugas dapat bekerja dengan aman dan gangguan lalu lintas bisa diminimalkan.
Di tengah kejadian tersebut, tidak ada korban jiwa maupun warga yang dilaporkan mengalami luka-luka. Meski demikian, pemilik rumah tetap harus menghadapi kerusakan bangunan yang ditimbulkan oleh kobaran api.
Kerugian materiil akibat kebakaran diperkirakan mencapai jutaan rupiah. Angka tersebut masih berupa perkiraan dan belum disertai rincian nilai kerusakan maupun barang milik korban yang terdampak.
Sementara itu, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwenang. Belum ada keterangan resmi yang memastikan sumber api, sehingga dugaan mengenai pemicu kejadian belum dapat disimpulkan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kebakaran di kawasan permukiman dapat menimbulkan dampak berlapis, mulai dari kerusakan tempat tinggal hingga gangguan akses transportasi. Pemeriksaan instalasi listrik, penggunaan peralatan rumah tangga secara aman, serta kewaspadaan terhadap sumber api perlu menjadi perhatian untuk mengurangi risiko kejadian serupa.
Masyarakat diharapkan segera melaporkan kebakaran begitu muncul tanda-tanda awal agar petugas dapat melakukan penanganan tanpa penundaan. Kecepatan respons, didukung akses petugas yang memadai dan kewaspadaan warga, menjadi unsur penting untuk mencegah api meluas serta menekan kerugian yang lebih besar. (MDR)




