Hulu Sungai Tengah

AQI Barabai Tembus 91, Warga HST Waspadai Ancaman Kabut Asap dari Daerah Tetangga

Hulu Sungai Tengah – Ancaman kabut asap kembali menjadi perhatian masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan. Di tengah belum terdeteksinya titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah setempat, kualitas udara di Barabai tercatat berada pada indeks 91 atau kategori sedang, dengan konsentrasi polutan PM2.5 mencapai 30,5 mikrogram per meter kubik.

Data dari aplikasi pemantau kualitas udara IQAir pada Minggu (18/10/2026) pukul 23.00 Wita tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara Barabai masih perlu diwaspadai. Terlebih, partikel halus PM2.5 menjadi polutan utama yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Kekhawatiran masyarakat semakin beralasan karena prakiraan per jam dalam aplikasi yang sama memperlihatkan potensi kenaikan indeks kualitas udara. AQI diperkirakan meningkat dari 91 menjadi 96 pada pukul 02.00 Wita, kemudian mencapai 102 pada pukul 03.00 Wita, 112 pada pukul 04.00 Wita, hingga 124 pada pukul 05.00 Wita.

Jika tren prakiraan tersebut terjadi, kualitas udara berpotensi bergeser dari kategori sedang menuju tidak sehat bagi kelompok sensitif. Namun, angka tersebut masih berupa prakiraan aplikasi dan bukan hasil pengukuran aktual pada jam-jam berikutnya.

Di sisi lain, data aplikasi Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi+) yang diperbarui hingga pukul 23.00 Wita tidak menunjukkan adanya titik karhutla terdeteksi di Kabupaten HST. Kondisi ini menjadi kabar yang relatif melegakan, tetapi belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran terhadap kemungkinan masuknya asap dari wilayah lain.

Sabu 10 Gram hingga Radio Komunikasi Disita Polisi dari Lokasi Dugaan Transaksi Narkoba di Hantakan

Pasalnya, sejumlah kabupaten di sekitar HST, yakni Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Selatan (HSS), Balangan, dan Kotabaru, masih memiliki titik panas atau hotspot yang terdeteksi berdasarkan informasi yang dihimpun. Meski demikian, keberadaan hotspot tidak serta-merta memastikan terjadinya kebakaran aktif maupun membuktikan bahwa asapnya bergerak menuju Barabai.

Situasi tersebut membuat masyarakat berharap agar potensi kabut asap tidak kembali meluas ke wilayah HST. Warga menginginkan kondisi udara tetap terjaga sehingga aktivitas sehari-hari dapat berlangsung tanpa terganggu paparan asap.

Salah seorang warga HST, Novie, mengaku berharap kabut asap dari wilayah sekitar tidak kembali menyelimuti daerahnya. Menurutnya, masyarakat tentu tidak ingin kembali menghadapi gangguan udara yang dapat memengaruhi kenyamanan dan kesehatan.

“Jangan sampai kabut asap kiriman dari kabupaten tetangga kembali meluas sampai ke HST. Kami ingin udara di Barabai tetap bersih dan masyarakat bisa beraktivitas dengan tenang tanpa harus khawatir menghirup asap,” ujar Novie.

Ia berharap seluruh pihak terkait tidak hanya berfokus pada penanganan ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan. Pengawasan terhadap kawasan rawan kebakaran dan kesadaran masyarakat untuk tidak membakar lahan secara sembarangan dinilai penting untuk menekan risiko karhutla.

Tak Sekadar Publikasi, Polres HST dan Insan Pers Bersatu dalam Aksi Donor Darah

“Kalau bisa, pencegahan dilakukan sejak awal. Jangan menunggu asap sudah masuk ke permukiman baru semua sibuk menangani. Kami berharap semua pihak saling menjaga agar kejadian kabut asap tidak terulang,” tambahnya.

Sementara itu, sebagian wilayah HST sempat diguyur hujan dengan intensitas ringan pada Minggu (17/10/2026) sore. Hujan tersebut menjadi kondisi yang diharapkan dapat membantu lingkungan, meskipun belum dapat dipastikan mampu mengurangi konsentrasi PM2.5 secara signifikan di seluruh wilayah.

Berdasarkan data pada aplikasi IQAir, suhu udara di Barabai saat itu berada di kisaran 25 derajat Celsius, dengan kecepatan angin sekitar 3 kilometer per jam dan kelembapan 77 persen. Data tersebut berasal dari model berbasis satelit, sehingga perlu dipahami sebagai informasi pemantauan yang dapat berbeda dari kondisi di setiap titik permukiman.

Masyarakat, khususnya anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan, diimbau lebih waspada apabila kualitas udara memburuk. Mengurangi aktivitas berat di luar ruangan, menggunakan masker yang sesuai ketika terpapar asap, serta memantau informasi kualitas udara dari sumber resmi dapat menjadi langkah perlindungan awal.

Belum terdeteksinya titik karhutla di HST merupakan kondisi yang patut dijaga, tetapi tidak boleh membuat kewaspadaan menurun. Dengan adanya hotspot di sejumlah kabupaten sekitar dan prakiraan peningkatan AQI di Barabai, pemantauan kualitas udara serta koordinasi penanganan karhutla lintas wilayah menjadi penting agar ancaman kabut asap tidak berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat. (MDR)

Melawan Persoalan Sampah dari Halaman Buku, Fauzan Bidik Perubahan Perilaku Warga HST