Hulu Sungai Tengah – Desa Jatuh, Kecamatan Pandawan, kini memiliki destinasi wisata baru berupa agrowisata petik buah melon yang dikelola oleh Bumdes Partala.
Kegiatan ini resmi dibuka pada Rabu, (1/7/2026), dan direncanakan akan berlangsung hingga besok, Jumat, (3/7/2026). Pengunjung yang ingin menikmati kesegaran buah langsung dari pohonnya cukup merogoh kocek sebesar Rp12.000 untuk setiap kilogramnya.
Lahan yang digunakan untuk perkebunan melon ini memiliki luas sekitar 0,4 hektar. Tanah tersebut merupakan milik warga desa yang disewa oleh pihak Bumdes Partala untuk dijadikan kawasan agrowisata yang produktif.
Inisiatif ini merupakan yang pertama kalinya dilakukan di wilayah tersebut. Tujuan utamanya adalah meningkatkan nilai jual hasil panen agar lebih menguntungkan dibandingkan jika hanya dijual kepada tengkulak dengan harga yang seringkali tidak menentu.
Selain aspek ekonomi, kehadiran wisata petik buah ini juga diharapkan dapat menjadi motivasi bagi Bumdes lain. Mereka didorong untuk lebih berinovasi dan tidak hanya bergantung pada satu jenis komoditas tanaman saja dalam pengelolaan usaha desa.
Muhammad Hairani, selaku Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) Desa Jatuh, menyampaikan hal tersebut saat diwawancarai pada Kamis, (2/7/2026). Ia merasa bangga karena usaha ini berhasil mengangkat nama baik desa di mata masyarakat luas.
“Untuk membuka agrowisata ini adalah yang pertama, untuk meningkatkan hasil yang lebih baik daripada kami menjual ke tengkulak. Saya sebagai petani kan alhamdulillah merasakan, artinya kita dapat mengangkat nama baik dari desa kami,” ujar Hairani.
Keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi kuat tiga pilar utama. Melibatkan peran PPS dalam penyaluran dana, dukungan penuh dari pemerintah desa, serta partisipasi aktif para petani dalam menjaga kualitas tanaman hingga panen.
Saat ini, jenis melon yang ditanam dan dipanen secara massal adalah varietas Rock atau yang dikenal dengan daging buah berwarna oren. Jenis ini dipilih karena perawatannya relatif mudah dan harganya sangat terjangkau bagi masyarakat.
Meskipun sebelumnya pernah mencoba menanam tiga jenis berbeda yakni Sky, Rock, dan Golden, pihak pengelola memutuskan untuk fokus pada varietas Rock terlebih dahulu. Keputusan ini diambil karena adaptasi tanaman terhadap tanah setempat dinilai paling maksimal.
Keunggulan utama dari melon jenis Rock terletak pada ukuran buahnya yang cukup besar. Beratnya bisa mencapai rata-rata 3 kilogram per buah, bahkan ada yang mampu mencapai 6 kilogram, sehingga memberikan keuntungan tersendiri bagi pembeli maupun pengelola.
Ke depannya, pihak pengelola berencana mengembangkan usaha ini lebih jauh. Rencana tersebut mencakup perluasan lahan tanam serta kemungkinan penambahan varietas lain seperti melon Golden yang memiliki tampilan visual lebih menarik bagi pengunjung.
“Kami sangat berterima kasih. Saya pribadi selaku penyuluh pertanian swadaya, sangat berterima kasih kepada pemerintah daerah yang telah memberikan SK kepada kami untuk operasional kami di bulan Juli sampai dengan Desember,” tutup Hairani.
Harapan besar disematkan agar kerjasama antara petani, Bumdes, dan pemerintah desa terus terjalin baik. Semoga inovasi ini bisa menjadi contoh positif yang diikuti oleh petani-petani di wilayah lainnya. (MDR)







