Jeddah – Pemerintah Indonesia melalui perwakilan di Arab Saudi dan anggota DPR RI akhirnya turun tangan membantu 38 jemaah umrah Syakira Tour yang terkatung-katung di Jeddah tanpa kepastian kepulangan.
Bantuan konkret ini diterima para jemaah pada Jumat,(31/7/2026) waktu setempat, setelah kabar keterlantaran mereka viral dan mendapat respons cepat dari publik serta media massa.
Salah satu korban, Mustadillah atau akrab disapa Tadil warga asli Desa Bakapas Kecamatan Berabai mengonfirmasi bahwa komunikasi dengan pemerintah terjalin berkat perantara M. Rifqinizamy Karsayuda, Ketua Komisi II DPR RI asal HST. Sabtu (1/8/2026) sekitar pukul 10.50 wita.
Melalui jembatan komunikasi tersebut, para jemaah berhasil terhubung langsung dengan Konsul Jenderal RI di Jeddah, Sugiri, yang segera menginstruksikan bantuan darurat.
“Siang sekitar jam 11.00 waktu Jeddah alhamdulillah kami bisa jalin komunikasi, Hasilnya, kami diberikan fasilitas berupa penginapan dan makan dari pemerintah,” ujar Tadil.
Pada pukul 14.00 waktu setempat, petugas Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) datang menjemput rombongan dan membawa mereka ke Wisma Haji di Makkah untuk mendapatkan perlindungan lebih lanjut.
Di lokasi tersebut, para jemaah disambut oleh Anggota DPR RI Dapil Kalimantan Selatan, H. Bambang Heri Purnama, yang secara pribadi hadir memberikan dukungan moral dan materiil.
Bambang Heri menyatakan kesediaannya memfasilitasi seluruh biaya kepulangan jemaah hingga tiba di Banjarmasin, termasuk upaya pencarian kursi pesawat tanpa transit demi kenyamanan.
Selain menjamin tiket pulang, politisi tersebut juga menyerahkan uang saku sebesar Rp1 juta untuk jemaah dewasa dan Rp500 ribu untuk anak-anak sebagai bantuan hidup sementara.
“Beliau memberikan uang saku serta makan malam bersama sebagai bentuk dukungan kepada para jemaah yang sudah beberapa hari tertunda kepulangannya,” tambah Tadil.
Intervensi negara ini menutupi kelalaian total pihak Syakira Tour yang hingga saat ini tidak mengeluarkan pernyataan resmi maupun solusi atas krisis yang ditimbulkannya.
Para jemaah mengungkapkan rasa syukur mendalam karena negara tidak meninggalkan warganya dalam kondisi sulit di tanah orang, meski sebelumnya merasa diabaikan oleh travel agent.
Mereka berharap insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi calon jemaah lain untuk lebih teliti memilih biro perjalanan yang memiliki rekam jejak jelas dan amanah.
Rencananya, kepulangan akan dilaksanakan secara bertahap namun tetap diupayakan agar seluruh rombongan dapat terbang bersama-sama secepatnya menuju Tanah Air. (MDR)



