Hulu Sungai Tengah – Pengelola SPBU Mandingin meminta aparat berwenang memperketat pengamanan setelah mendapati pengendara yang berulang kali mengantre Pertalite meski telah ditegur petugas.
Permintaan tersebut disampaikan pengelola sekaligus pengawas SPBU Mandingin, Purwadi, Rabu (23/9/2026), menyusul antrean kendaraan yang kembali memanjang saat menunggu pendistribusian Pertalite.
Menurut pengelola, persoalan tidak hanya berkaitan dengan panjangnya antrean, tetapi juga perilaku sebagian pengendara yang kembali mengantre setelah sebelumnya melakukan pengisian. Kondisi tersebut membuat petugas harus berulang kali memberikan teguran di lapangan.
Upaya menertibkan pengendara yang mengantre berulang kali tidak selalu berjalan mudah. Teguran petugas terkadang mendapat bantahan hingga memicu perdebatan, sehingga pengelola membutuhkan dukungan aparat untuk menjaga situasi tetap terkendali.
“Kalau ditegur, sering berdebat. Daripada perdebatan semakin meluas, kami terkadang memilih membiarkannya. Karena itu kami sangat mengharapkan aparat selalu ada untuk mengawal pendistribusian,” ujar Purwadi.
Pantauan media ini, Rabu pagi, kondisi SPBU Mandingin masih terlihat aman dan kondusif. Petugas saat itu sedang melayani pengisian Bio Solar, sedangkan pendistribusian Pertalite dilakukan setelah pelayanan Bio Solar selesai untuk mengurangi kepadatan kendaraan.
Meski belum dibuka, antrean mobil yang hendak membeli Pertalite sudah terlihat cukup panjang. Dalam beberapa hari terakhir, antrean bahkan memanjang dari sisi jalan menuju Tanjung dan Balangan hingga memasuki halaman Stadion Mandingin Barabai.
SPBU Mandingin menerapkan pembatasan pembelian Pertalite sebagai bagian dari upaya mencegah pelangsiran. Kendaraan roda dua dibatasi maksimal 5 liter, sementara kendaraan roda empat maksimal 30 liter.
Untuk mengurangi kepadatan, pengelola mengarahkan antrean sepeda motor masuk ke halaman hingga bagian belakang SPBU. Pengaturan tersebut dilakukan agar kendaraan tidak menumpuk di badan jalan dan mengganggu pengguna jalan lainnya.
SPBU Mandingin juga memperpanjang pelayanan hingga pukul 00.00 WITA selama stok BBM masih tersedia. Kebijakan tersebut telah berjalan sejak 22 September dan dijadwalkan berlangsung hingga 24 September 2026 berdasarkan instruksi Pertamina.
Pasokan Pertalite turut ditambah selama masa tersebut. Stok yang sebelumnya sekitar 8.000 liter ditingkatkan menjadi 16.000 liter untuk meningkatkan kemampuan pelayanan kepada masyarakat.
Tingginya permintaan Pertalite menjadi salah satu faktor yang membuat antrean sulit dihindari. Perbedaan harga dengan Pertamax cukup besar, yakni Pertalite sekitar Rp10.000 per liter, sedangkan Pertamax Rp16.300 per liter.
Purwadi menilai selisih harga tersebut membuat masyarakat cenderung memilih Pertalite. Akibatnya, jumlah kendaraan yang datang untuk mendapatkan BBM bersubsidi tersebut tetap tinggi meskipun pembatasan pembelian telah diberlakukan.
Di tengah kondisi itu, pengelola berharap aparat berwenang dapat meningkatkan pengawasan langsung di lokasi, terutama ketika pendistribusian Pertalite berlangsung. Pengamanan dinilai diperlukan agar aturan antrean dan pembatasan pembelian dapat diterapkan secara konsisten tanpa memicu perdebatan.
Pengelola memastikan pelayanan tetap diupayakan berjalan tertib dengan mengatur jalur kendaraan dan menyesuaikan waktu pendistribusian. Kehadiran aparat secara lebih ketat diharapkan dapat mencegah pengendara mengulang antrean, menjaga ketertiban, serta mengurangi dampak kepadatan kendaraan terhadap arus lalu lintas di sekitar SPBU. (MDR)




