Hulu Sungai Tengah

Tren Stunting Meningkat di Desa Banua Binjai, Pembakal Desak Intervensi Hulu

Hulu Sungai Tengah – Pemerintah Desa Banua Binjai menyatakan keprihatinan mendalam atas tren kenaikan kasus stunting yang terus bertambah setiap bulan sepanjang semester pertama tahun 2026.

Rembug stunting digelar pada Rabu pagi, 29 Juli 2026, di Gedung Posyandu setempat untuk mengevaluasi data terbaru dan merumuskan strategi pencegahan yang lebih efektif.

Pembakal Desa Banua Binjai, Adriansyah, menekankan bahwa penanganan stunting tidak bisa hanya berfokus pada anak yang sudah lahir, tetapi harus dimulai dari masa kehamilan hingga pra-konsepsi.

Ia menggunakan analogi sumber air untuk menjelaskan pentingnya kualitas gizi sejak awal, di mana jika hulu sungai keruh, maka hilirnya pun tidak akan pernah jernih.

“Stunting ini dari ayah ibunya dulu disuburkan. Maksudnya dari abah orang tuanya yang dihimbau, bagaimana memelihara janin dalam perut,” ujar Adriansyah dalam sambutannya.

IWAPI HST Gelar Rakercab, Fokus pada Optimalisasi Keuangan dan Strategi Bisnis

Data yang disampaikan oleh Tim Pengendali Stunting desa, Norhidayah M., menunjukkan grafik yang mengkhawatirkan dengan jumlah kasus yang terus naik tanpa penurunan signifikan.

Pada Januari dan Februari tercatat empat anak stunting, namun angka tersebut melonjak menjadi lima orang pada Maret dan April, serta tujuh orang di Mei.

Puncak kenaikan terjadi pada Juni 2026, di mana jumlah anak stunting mencapai sembilan orang, terdiri dari tujuh kategori pendek dan dua kategori sangat pendek.

Dua anak dengan status sangat pendek berasal dari Posyandu Cempaka, yakni Nasyatul Nur dan Aisyah Humairah, yang membutuhkan intervensi gizi intensif segera.

Adriansyah menyoroti bahwa kepuasan warga terhadap layanan kesehatan mencapai 75-80 persen, namun kesempurnaan pelayanan masih perlu ditingkatkan melalui kritik membangun.

Cegah Penimbunan, SPBU Mandingin Batasi Pembelian Pertalite 30 Liter per Mobil

Ia juga mengingatkan peran vital ayah dalam rumah tangga, khususnya larangan merokok di dekat ibu hamil dan menyusui demi menjaga kualitas udara dan kesehatan janin.

“Edukasi makanan bergizi harus menyentuh rahim ibunya, biar anaknya lahir ke dunia sehat. Kalau sudah keluar, tentunya lambat karena sudah berbentuk,” tambahnya.

Kendala utama dalam pemantauan adalah proses verifikasi data yang bertahap dan memerlukan koordinasi ketat dengan Puskesmas untuk menghindari kesalahan pengukuran di lapangan.

Para kader Posyandu Bina Insan dan Cempaka didorong untuk terus menyelaraskan data administratif dengan kondisi riil anak di lapangan agar intervensi tepat sasaran. ( MDR )

PLN Monitor Kematian 5.000 Ayam di HST, Kompensasi Masih Dalam Kajian